Karang Intan, Harianmetronews.com –
Kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu bekal penting yang terus ditingkatkan dalam proses pembinaan warga binaan. Untuk mewujudkan hal tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan menggelar kelas pengentasan buta aksara “Belajar Menyambung Kata dan Mengeja” di Ruang Belajar Lapas. Melalui metode Training of Trainer (TOT), warga binaan yang sedang mengikuti program perkuliahan berperan sebagai tutor sebaya dalam membimbing rekan-rekannya belajar membaca dan menulis, Rabu (15/07/2026).
Program ini diikuti oleh warga binaan yang memiliki keterbatasan kemampuan literasi dasar. Melalui pendekatan tutor sebaya, proses pembelajaran berlangsung lebih interaktif karena peserta belajar bersama rekan yang memahami kondisi dan kebutuhan mereka. Selain meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, metode ini juga membangun budaya saling membantu, berbagi pengetahuan, dan menumbuhkan rasa percaya diri di lingkungan pembinaan.
Dalam pelaksanaannya, para tutor membimbing peserta secara bertahap mulai dari mengenali huruf, menyambung suku kata, mengeja kata, hingga membaca kalimat sederhana.
Seluruh kegiatan berlangsung di bawah pendampingan dan pengawasan Petugas Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat), Taufik Hidayat, guna memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, tertib, dan sesuai dengan tujuan pembinaan. Kegiatan berlangsung dengan lancar, aman, dan kondusif.
Petugas Seksi Bimkemaswat, Taufik Hidayat, mengatakan bahwa metode tutor sebaya menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi sekaligus menumbuhkan kepedulian antarwarga binaan.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada setiap warga binaan untuk terus belajar tanpa memandang latar belakang pendidikannya. Melalui sistem Training of Trainer, warga binaan yang memiliki kemampuan lebih dapat berbagi ilmu kepada teman-temannya. Selain meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, kegiatan ini juga menanamkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab dalam proses pembinaan,” ujar Taufik.
Salah seorang warga binaan yang menjadi tutor berinisial IN mengaku bersyukur dapat mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Baginya, kesempatan menjadi pengajar merupakan bentuk kepercayaan yang memotivasi dirinya untuk memberikan manfaat kepada sesama warga binaan.
“Saya merasa bangga bisa berbagi ilmu kepada teman-teman. Saat melihat mereka mulai bisa mengenali huruf, mengeja, hingga membaca dengan lebih lancar, saya ikut merasakan kebahagiaan. Semoga apa yang kami lakukan hari ini menjadi bekal yang bermanfaat bagi kami semua ketika kembali ke masyarakat,” ungkap IN.
Sementara itu, salah seorang peserta pembelajaran berinisial AN mengaku kegiatan tersebut memberinya semangat baru untuk terus belajar. Menurutnya, suasana belajar bersama tutor sebaya membuat dirinya lebih nyaman dan percaya diri dalam mengikuti pembelajaran.
“Awalnya saya merasa malu karena belum lancar membaca. Namun para tutor membimbing kami dengan sabar sehingga saya mulai berani mencoba. Sekarang saya sudah bisa menyambung kata dan membaca kalimat sederhana. Saya ingin terus belajar agar memiliki kemampuan yang lebih baik,” tutur AN.
Program pengentasan buta aksara berbasis tutor sebaya menjadi salah satu wujud komitmen Lapas Narkotika Kelas IIA Karang Intan dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pemberdayaan warga binaan.
Melalui metode Training of Trainer (TOT), warga binaan tidak hanya menjadi peserta pembinaan, tetapi juga diberi ruang untuk berkontribusi sebagai penggerak perubahan bagi sesama.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses pembinaan dapat tumbuh dari potensi yang dimiliki warga binaan sendiri. Semangat saling mengajar dan saling belajar menjadi modal penting dalam membangun lingkungan pembinaan yang positif, sekaligus mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan dasar, karakter, dan kepercayaan diri yang lebih baik ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. (nta).





