Rawat Maggot Usia Tiga Hari, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Asah Keterampilan Budidaya

Banjarmasin, Harianmetronews.com –

Proses budidaya maggot membutuhkan perawatan sejak fase awal pertumbuhan. Hal tersebut menjadi bagian dari kegiatan pembinaan kemandirian di Lapas Kelas IIA Banjarmasin melalui pemberian pakan kepada maggot yang telah berusia tiga hari.

Dalam kegiatan tersebut, pemberian pakan dilakukan untuk mendukung pertumbuhan larva sejak dini. Warga Binaan turut mempelajari cara pemeliharaan maggot, termasuk memperhatikan ketersediaan pakan dan kondisi media agar larva dapat berkembang dengan baik.

Petugas Seksi Kegiatan Kerja (Giatja), Noval Gibran Fatah, memberikan pendampingan sekaligus arahan teknis kepada Warga Binaan mengenai pemeliharaan maggot.

“Pada usia tiga hari, maggot sudah mulai mendapatkan perhatian dalam pemeliharaannya. Kami mendampingi Warga Binaan untuk memahami cara memberikan pakan dan menjaga kondisi media agar tetap sesuai untuk pertumbuhan larva,” jelas Noval.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Bagus Paras Etika, menjelaskan bahwa pembinaan budidaya maggot diberikan melalui praktik langsung agar Warga Binaan memahami tahapan pemeliharaan sejak awal hingga siap dimanfaatkan.

“Dalam pembinaan ini, Warga Binaan kami ajarkan proses budidaya secara bertahap, mulai dari perawatan larva, pemberian pakan, hingga pemanfaatan maggot sebagai pakan alternatif. Dengan pendampingan langsung, mereka diharapkan memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri,” ujarnya.

Sementara itu, Kalapas Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menyampaikan bahwa budidaya maggot merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang mengajarkan pemanfaatan sumber daya secara produktif.

“Kami terus mendorong pengembangan keterampilan yang memiliki manfaat nyata. Budidaya maggot tidak hanya memberikan pengetahuan di bidang peternakan dan perikanan, tetapi juga mengajarkan pemanfaatan bahan organik agar memiliki nilai guna. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi Warga Binaan setelah kembali ke masyarakat,” tegasnya.

Salah seorang Warga Binaan, Roni (nama samaran), mengaku mendapatkan pengetahuan baru melalui kegiatan budidaya tersebut.

“Awalnya saya belum begitu memahami cara memelihara maggot. Sekarang saya belajar bagaimana memberikan pakan dan memperhatikan perkembangannya. Ternyata perlu ketelatenan juga dalam merawatnya,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Lapas Banjarmasin terus mengembangkan pembinaan kemandirian yang mengintegrasikan pemanfaatan limbah organik dengan budidaya perikanan dan peternakan. Dari perawatan sederhana sejak usia tiga hari, Warga Binaan belajar membangun keterampilan yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif. (Humas Lapas Banjarmasin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *